
KALIMANTAN TENGAH — Firdan Dwi Setiawan, mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), bersama Aris Pratama Gunawan, alumni MPAI UAD, turut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di Kalimantan Tengah.
Dalam aksi tersebut, keduanya menempuh perjalanan sejauh 1.931 kilometer dengan melintasi enam kabupaten. Mereka menyalurkan bantuan berupa paket masker dan multivitamin bagi masyarakat terdampak karhutla, serta mendistribusikan air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan.
Aksi kemanusiaan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Menurut Firdan, mempelajari agama Islam tidak cukup hanya melalui teori dan pemahaman di ruang akademik. Ilmu yang diperoleh juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.
“Bagi saya, belajar agama Islam bukan hanya tentang memahami teori, tetapi juga bagaimana mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan nyata. Ketika masyarakat sedang menghadapi bencana, kita harus hadir, membantu sesuai kemampuan, dan memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Inilah salah satu bentuk nyata dari ilmu yang saya pelajari,” ungkap Firdan.
Sementara itu, Aris Pratama Gunawan menilai bahwa keterlibatan dalam aksi kemanusiaan merupakan kesempatan untuk menumbuhkan kepekaan sosial sekaligus memahami secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak bencana. Menurutnya, bantuan yang diberikan tidak harus selalu dalam jumlah besar, tetapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Bencana seperti karhutla dan kekeringan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, kita perlu melihat langsung kondisi mereka dan memahami bantuan apa yang benar-benar dibutuhkan. Semoga apa yang kami lakukan bisa sedikit meringankan beban masyarakat dan menggerakkan lebih banyak orang untuk ikut peduli,” ungkap Aris.

Ia juga berharap aksi tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kepedulian dan kerja sama berbagai pihak. Menurutnya, solidaritas masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam membantu warga melewati situasi sulit, terutama ketika kebutuhan dasar seperti air bersih sulit diperoleh.
Keterlibatan Firdan dan Aris dalam aksi kemanusiaan ini menjadi wujud kepedulian terhadap masyarakat yang tengah menghadapi dampak bencana lingkungan. Melalui penyaluran bantuan tersebut, keduanya berharap dapat meringankan beban masyarakat, khususnya mereka yang terdampak karhutla dan kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan.
Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa peran mahasiswa dan alumni tidak hanya terbatas pada lingkungan akademik. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman perlu diwujudkan melalui kepedulian sosial, solidaritas, dan pengabdian nyata di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Firdan dan Aris berharap semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan serta hadir memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Jaga Predikat Unggul dan Kepercayaan Masyarakat, MPAI UAD Jalani Audit Mutu Internal
/in Berita /by wintoloAMI kali ini menghadirkan Prof. Dr. Suparman, M.Si., DEA. sebagai Lead Auditor dan Nurul Hidayah, Dr., M.Si., Psi. sebagai Auditor. Turut hadir Dekan sekaligus dosen MPAI Prof. Dr. Suyadi, M.Pd.I., Kepala Prodi MPAI Dr. Djamaluddin Perawironegoro, M.Pd.I, Pendamping Sistem Mutu Prodi MPAI Dr. Wantini, M.Pd.I, serta Staf MPAI Wintolo.
Agendanya tidak sekadar duduk membaca dokumen. Setelah pembukaan, kegiatan berlanjut ke verifikasi data, diskusi mendalam soal akar masalah, hingga merumuskan solusi atas persoalan yang ditemukan. Yang sudah baik juga mendapat apresiasi, terutama indikator-indikator yang telah memenuhi bahkan melampaui target. Suasananya hangat, tetapi pesannya tetap jelas: mutu harus dijaga, bukan hanya dirayakan saat akreditasi tiba.
Dalam sambutan pembukaannya, Kaprodi MPAI menyampaikan bahwa capaian akreditasi eksternal yang berhasil mesti ditopang penjaminan mutu internal yang serius. “Prodi MPAI ini baru saja selesai dan mempertahankan akreditasi Unggul dari Lamdik di tahun 2026, selain akreditasi nasional MPAI UAD juga telah mendapatkan akreditasi internasional dari AQAS. Penjaminan mutu eksternal yang berhasil itu didukung dengan penjaminan mutu internal yang baik, salah satunya melalui proses Audit Mutu Internal (AMI). Oleh karena itu, AMI menjadi hal penting dan serius sebagai ikhtiar mutu serta upaya perbaikan berkelanjutan dalam menjaga kepercayaan pimpinan fakultas, universitas, dan stakeholder,” ujarnya.
Kaprodi juga mengucapkan terima kasih kepada para auditor yang telah hadir dan meluangkan waktu untuk ikut menjaga budaya mutu Prodi MPAI. Menurutnya, kepercayaan masyarakat tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri, tetapi harus dirawat melalui proses yang terbuka, terukur, dan berkelanjutan.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Suparman, M.Si., DEA. selaku Lead Auditor menekankan bahwa mengelola prodi bukan hanya soal administrasi dan capaian angka. Ada tanggung jawab layanan dan jaminan mutu yang harus diberikan kepada mahasiswa sejak mereka diterima hingga lulus. “Mengelola prodi mengharuskan kita memberikan layanan dan jaminan bagi mahasiswa dari sejak diterima hingga meluluskannya. Tidak sekedar lulus, tetapi lulus yang bermutu dan berdaya di masyarakat,” pesannya.
Dengan AMI ini, Prodi MPAI UAD menegaskan bahwa predikat Unggul dan pengakuan internasional bukanlah garis akhir. Justru dari situ, budaya mutu terus dirawat agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga dan lulusan MPAI UAD benar-benar membawa manfaat di tengah masyarakat.
Mahasiswa dan Alumni MPAI UAD Respons Bencana di Kalimantan Tengah, Tempuh 1.931 Kilometer untuk Bantu Masyarakat
/in Berita, Download, Events /by wintoloKALIMANTAN TENGAH — Firdan Dwi Setiawan, mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), bersama Aris Pratama Gunawan, alumni MPAI UAD, turut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di Kalimantan Tengah.
Dalam aksi tersebut, keduanya menempuh perjalanan sejauh 1.931 kilometer dengan melintasi enam kabupaten. Mereka menyalurkan bantuan berupa paket masker dan multivitamin bagi masyarakat terdampak karhutla, serta mendistribusikan air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan.
Aksi kemanusiaan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Menurut Firdan, mempelajari agama Islam tidak cukup hanya melalui teori dan pemahaman di ruang akademik. Ilmu yang diperoleh juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.
“Bagi saya, belajar agama Islam bukan hanya tentang memahami teori, tetapi juga bagaimana mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan nyata. Ketika masyarakat sedang menghadapi bencana, kita harus hadir, membantu sesuai kemampuan, dan memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Inilah salah satu bentuk nyata dari ilmu yang saya pelajari,” ungkap Firdan.
Sementara itu, Aris Pratama Gunawan menilai bahwa keterlibatan dalam aksi kemanusiaan merupakan kesempatan untuk menumbuhkan kepekaan sosial sekaligus memahami secara langsung kondisi masyarakat yang terdampak bencana. Menurutnya, bantuan yang diberikan tidak harus selalu dalam jumlah besar, tetapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Bencana seperti karhutla dan kekeringan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, kita perlu melihat langsung kondisi mereka dan memahami bantuan apa yang benar-benar dibutuhkan. Semoga apa yang kami lakukan bisa sedikit meringankan beban masyarakat dan menggerakkan lebih banyak orang untuk ikut peduli,” ungkap Aris.
Ia juga berharap aksi tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kepedulian dan kerja sama berbagai pihak. Menurutnya, solidaritas masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam membantu warga melewati situasi sulit, terutama ketika kebutuhan dasar seperti air bersih sulit diperoleh.
Keterlibatan Firdan dan Aris dalam aksi kemanusiaan ini menjadi wujud kepedulian terhadap masyarakat yang tengah menghadapi dampak bencana lingkungan. Melalui penyaluran bantuan tersebut, keduanya berharap dapat meringankan beban masyarakat, khususnya mereka yang terdampak karhutla dan kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan.
Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa peran mahasiswa dan alumni tidak hanya terbatas pada lingkungan akademik. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman perlu diwujudkan melalui kepedulian sosial, solidaritas, dan pengabdian nyata di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Firdan dan Aris berharap semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan serta hadir memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.